Kematian pasangan hidup menimbulkan banyak permasalahan seperti stigma negatif di masyarakat, tentang status janda timbul permasalahan ekonomi, seksual, dan sebagainya. Dengan adanya permaslahan tersebut banyak yang memutuskan untuk mencari kerja sebagai TKW, dalam rangka menghindari stigma permaslahan yang terjadi,
Seorang perempuan yang ketika masih bersama suaminya menggantungkan seluruh kebutuhan ekonomi keluarganya, akan menjadi prustasi, putus asa, bingung dan depresi tentang masa depan nya dan anak-anaknya. Mereka kebingungan apa yang harus mereka lakukan agar anak-anaknya tetap bisa makan dan sekolah. Seorang janda yang sekalipun dia mendapatkan warisan melimpah dari mantan suaminya, namun ketika selama suaminya masih ada tidak pernah ikut terlibat,tidak pernah membantu suaminya mencari nafkah, bahkan tidak pernah dan tidak mau tahu urusan ekonomi keluarganya, pasti akan mengalami kebingungan ketika tiba-tiba suaminya meninggalkannya karena cerai maupun meninggal dunia. Sehingga, ketika urusan pemakaman dan pengurusan jenazah suaminya sudah selesai, mereka akan berusaha mencari jalan dan solusi untuk bisa memenuhi kebutuhan keluarganya. Sebagian besar dari para janda tidak memiliki life skills dan pengalaman dalam bidang bisnis, usaha, dan perdagangan. Berbagai pilihan pekerjaan harus mereka pilih dan harus mereka kerjakan untuk bisa memenuhi kebutuhan hidupnya.
Dari hasil wawancara dengan beberapa janda yang jadi infroman dalam
penelitian ini, sebagian memilih untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga di
kota atau di rumah orang kaya yang ada di sekitar kampungnya dengan gaji ala
kadarnya. Ibu E, misalnya, kebutuhan ekonomi keluarganya utamanya ditopang oleh
penghasilan dari pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga di tetangganya yang
berada walaupun dengan gaji yang sangat jauh dari cukup. Berhutang kebutuhan makanan
pokok ke warung-warung menjadi solusi terbaik ketika dirumah tidak ada lagi
persediaan beras dan lauk pauk, dan dibayar ketika mereka mendapatkan gaji yang
seringkali tidak cukup untuk membayar hutang-hutangnya. Dia juga pernah menjadi
pembantu rumah tangga di rumah seseorang di Jakarta dan di Serang selama
beberapa tahun, sebelum akhirnya dia memutuskan untuk pulang kampung karena
khawatir dengan anak-anaknya.[12]
Selanjutnya, beberapa janda lain yang juga tidak memiliki life skills,
pengalaman kerja dan dagang, dan tidak memiliki ijazah yang layak untuk bisa
bekerja di pabrik, memilih berjualan keliling dengan modal seadanya. Ada yang
berjualan sayur dan ikan, jualan kue, jualan peralatan dapur, dan lain
sebagainya. Mereka berkeliling setiap hari dari rumah ke rumah menjajakan
dagangannya. Tidak jarang mereka juga harus kepanasan dan kehujanan, dan pulang
dengan dagangan yang masih banyak karena kurang pembeli. Seringkali mereka
harus gulung tikar karena kekurangan modal, sementara kebutuhan makan dan jajan
anak-anak harus terus dipenuhi. Tapi mereka tidak pernah pasrah dengan keadaan.
Beberapa dari mereka bahkan ada yang sudah berusia di atas 5o tahun. Kondisi
ini dialami oleh beberpaa janda di Serang Banten seperti Ibu M (60 th) dan ibu
R (50 th) di Ciomas, Ibu Mn dan Ibu
J di Sempu, dan Ibu Lk (55 th) di
Kebaharan.
Selanjutnya, bertani dan melanjutkan usaha mantan suami, juga menjadi
pilihan seorang janda untuk tetap bisa memenuhi kebutuhan suaminya. Ibu Fth
(58th) dan Ibu Str(64th) dua orang janda kaya dan terpandang di daerah Ciomas,
misalnya, meskipun memiliki banyak anak, karena memiliki warisan yang lumayan
banyak dari mendiang suaminya, dan mereka mau belajar dan bekerja keras, mereka
mampu mengelola ekonominya dengan baik, sehingga bisa menyekolahkan sebagian
besar anak-anaknya hingga ke tingkat Sarjana, dan sebagian sudah bekerja
sebagai PNS dan di tempat lain yang cukup bagus.[13]
Ada juga sebagian janda yang bekerja sebagai petani penggarap, yang menerima
upah setelah panen dari pemilik lahan. Kondisi ini dialami oleh Ibu Rhyt (35
th) dan Ibu Nn (34 th) di desa Citundun, Padarincang.[14]
Ada juga para janda yang bekerja serabutan dan tidak tetap. Mereka bekerja
jika ada yang mengundang untuk masak di acara-acara hajatan, atau kalau ada
yang menyuruh mereka membantu tetangganya sewaktu-waktu, atau membuat kue-kue
pesanan.[15]
Sebagian janda ada yang beruntung karena memiliki ijazah SMP atau SMA.
Mereka bisa diterima bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik sepatu di Cikande.
Mereka umumnya adalah janda muda yang baru ditinggal cerai oleh suaminya.
Namun, mereka tidak bisa tinggal dengan anak-anak mereka, karena mereka harus
tinggal di kontrakan di dekat pabrik. Mereka menitipkan anak mereka kepada
orang tua atau keluarganya yang lain. Mereka baru bisa pulang 2 minggu sekali
atau satu bulan sekali jika sudah gajihan. Cape dan sedih karena harus jauh
dari anak-anaknya tidak menyurutkan niat mereka untuk bekerja dan mencari uang
demi memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya. Kondisi ini dialami oleh S.T. (34
th) dan Lsn (35th).[16]
Sebagian janda muda yang lain, bekerja sebagai pelayan toko di Jakarta, seperti
yang dialami oleh Ibu Ftm (32 th) dan Ibu Nng (34 th).[17]

Komentar
Posting Komentar